Ketua KPID Bengkulu Luncurkan Buku Disrupsi Digital
TEDLINE.id – Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Bengkulu, Tedi Cahyono, meluncurkan buku nonfiksi terbarunya berjudul Disrupsi Digital: Dari Layar Kaca ke Layar Genggam. Buku ini menjadi karya nonfiksi kedua yang ditulisnya setelah sebelumnya menerbitkan Panduan Praktis Jurnalistik: Menjadi Jurnalis Profesional.
Melalui buku tersebut, Tedi mengulas transformasi besar yang tengah terjadi di dunia penyiaran dan media akibat pesatnya perkembangan teknologi digital. Perubahan pola konsumsi informasi dan hiburan membuat masyarakat tidak lagi hanya mengandalkan televisi dan radio, tetapi beralih ke berbagai platform digital yang dapat diakses melalui telepon genggam.
Menurut Tedi, disrupsi digital telah mengubah cara masyarakat berkomunikasi, memperoleh informasi, hingga menikmati konten hiburan. Kondisi ini menuntut seluruh pemangku kepentingan, mulai dari industri penyiaran, regulator, pemerintah, akademisi, hingga masyarakat, untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Perubahan ini tidak bisa dihindari. Yang terpenting adalah bagaimana kita memanfaatkan teknologi secara bijak dengan tetap mengedepankan etika, kualitas informasi, dan kepentingan publik,” ujar Tedi.
Dalam buku Disrupsi Digital: Dari Layar Kaca ke Layar Genggam, Tedi membahas berbagai isu strategis, seperti konvergensi media, transformasi industri penyiaran, algoritma media sosial, perubahan perilaku audiens, perkembangan platform digital, pentingnya literasi digital, hingga tantangan regulasi penyiaran di era digital.
Ia berharap buku tersebut dapat menjadi referensi bagi mahasiswa, akademisi, insan penyiaran, praktisi media, pembuat kebijakan, dan masyarakat umum yang ingin memahami dinamika perkembangan media di tengah revolusi digital.
Sebelumnya, Tedi Cahyono telah menerbitkan buku Panduan Praktis Jurnalistik: Menjadi Jurnalis Profesional yang membahas teknik dasar jurnalistik, proses peliputan, penulisan berita, serta etika profesi wartawan. Kehadiran buku kedua ini menjadi wujud konsistensinya dalam memberikan kontribusi pemikiran di bidang komunikasi, jurnalistik, dan penyiaran.
Sebagai Ketua KPID Bengkulu, Tedi berharap transformasi digital dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kualitas penyiaran dan meningkatkan literasi masyarakat. Menurutnya, kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kemampuan masyarakat dalam menyaring informasi serta menggunakan media secara cerdas dan bertanggung jawab.
“Buku ini saya tulis sebagai ajakan untuk memahami perubahan yang sedang terjadi. Disrupsi digital bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga menyangkut budaya, perilaku, regulasi, dan masa depan dunia penyiaran di Indonesia,” tutup Tedi.







