Helmi Hasan, Sang Penabuh Hadroh
DALAM bahasa Arab, hadroh berarti “kehadiran.” Tapi dalam budaya Nusantara, hadroh juga dikenal sebagai tabuhan rebana yang penuh semangat, menandai hadirnya suasana gembira, penuh makna, dan bernuansa religius.
Maka, ketika kita menyebut Helmi Hasan sebagai “penabuh hadroh”, itu bukan sekadar perumpamaan puitis. Ia benar-benar menghadirkan semangat hadroh dalam wujud kepemimpinan, pemimpin yang hadir di tengah rakyatnya, bukan hanya di baliho, juga TikTok.
Tak Sekadar Terlihat
Sejak menjabat Wali Kota Bengkulu, Helmi Hasan menandai kepemimpinannya dengan kehadiran yang terasa. Tidak hanya lewat pidato atau janji, tapi lewat program-program nyata yang menjawab kebutuhan masyarakat sehari-hari.
Contoh? Program ambulans gratis.
Sederhana, tapi dampaknya besar. Sebelum ada program ini, banyak warga kesulitan saat ada anggota keluarga yang sakit atau meninggal. Ada yang tak bisa memanggil ambulans karena biayanya mahal, bahkan ada yang harus bawa jenazah pakai kresek.
Helmi hadir menjawab itu. Ia menginstruksikan agar ambulans bisa digunakan siapa pun, kapan pun, tanpa biaya. Kesehatan dan kemanusiaan tak boleh diperjualbelikan.
Itulah hadroh : kehadiran pemimpin yang dirasakan sampai di pintu rumah rakyat.
Di masa kepemimpinan Helmi, Kota Bengkulu juga mulai berubah wajah. Jalan-jalan yang dulu rusak, penuh lubang, dan lama tak tersentuh kini mulus dan nyaman dilewati. “Seribu Jalan Mulus” bukan cuma urusan aspal dan beton, tapi simbol bahwa pemerintah hadir, tidak lagi absen.
Helmi Hasan juga punya cara lain menunjukkan kehadiran. Lewat kasih sayang, politisi PAN itu canangkan program “Setiap pejabat wajib punya anak yatim asuh.”
Bagi Helmi, menjadi pejabat bukan soal jabatan dan fasilitas, tapi soal tanggung jawab moral. Anak-anak yatim harus punya tempat bernaung, bukan sekadar jadi angka dalam statistik kemiskinan.
Program ini mengubah banyak hal. Bukan hanya nasib anak yatim, tapi juga hati para pejabat yang belajar kembali arti kepedulian.
Satu lagi program Helmi yang paling berani adalah “Peduli Janda.” Dengan slogan menafkahi tanpa menikahi, ia ingin menunjukkan bahwa seorang pemimpin bisa hadir dengan cara yang bermartabat. Ini bukan sensasi, tapi bentuk nyata hadroh sosial.
Hadroh yang Terus Menggema
Kini, Helmi Hasan menabuh hadroh-nya di panggung yang lebih luas. Jadi Gubernur Bengkulu, semangatnya tetap sama. Ia ingin menjelma sebagai pemimpin yang tak sekadar hadir di kantor, tapi hadir di hati rakyat.
Karena sejatinya, pemimpin itu bukan yang paling tinggi suaranya di panggung, tapi yang paling terasa kehadirannya di kehidupan rakyatnya.
Sabda Nabi Muhammad SAW,“Khairunnas anfahum linnas. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Writer: Tedi Cho
Editor: TEDLINE.id








